PropertiUmum

Penting Mana, Rumah Yang diimpikan atau Rumah Sesuai dengan Keperluan?

Makna Home is where the heart is dimanfaatkan orang buat menggambarkan situasi rumah yang baik. Sebab lewat pengakuan ini, rumah yang baik tidak selamanya problem ukuran atau kemewahan.

Pengakuan ini lebih berpedoman dalam suatu rumah yang bisa penuhi kepentingan penghuninya dan berikan kenyamanan.

Meski mempunyai bentuk yang kuat dan besar, rumah sebetulnya yakni kepentingan yang dinamis. Bermakna, rumah yang kita punyai saat ini, yang kita fikir dapat penuhi kepentingan dan kenyamanan kita saat ini, barangkali tak terasa nyaman dan cukup di waktu hadir. Barangkali sehari nantinya Anda benar-benar diperlukan geser ke rumah baru.

Diambil dari halaman Rumah.com, Senin (22/4/2019), berdasarkan data survey melalui Instagram Rumah.com waktu saat kemarin. Hasilnya beri bila 50% responden telah punyai rumah sendiri (bukan mengontrak atau berada di dalam rumah orang-tua/mertua).

Tapi dari responden yang sudah punyai rumah itu, sekitar 40% sebenarnya rasakan tak suka dengan hunian yang didiami saat ini dan mengaku mau geser ke hunian yang lebih baik.

Tekad buat geser bukan hal yang tabu, bukan sikap yang tak bersyukur. Seseorang, ditambahkan satu keluarga, mempunyai kenyataan yang objektif buat rasakan tak nyaman dan mau geser ke rumah baru. Kenyataan itu ada seiring waktu.

Sisi keluarga yang semakin bertambah menuntut tempat yang makin besar dalam rumah. Kehadiran anggota baru menuntut kepentingan baru, seperti sekolah, yang awalannya tak dibutuhkan oleh pasangan yang baru menikah.

Jika rumah yang kita punyai saat ini tidak bisa penuhi kepentingan yang bertumbuh itu, geser bisa jadi jalan keluar.

Menunda beli rumah waktu sudah bisa yakni sikap yang salah. Kenaikan harga properti yang cepat tak searah dengan kenaikan bunga tabungan atau rata-rata kenaikan penghasilan.

Lebih baik beli rumah yang belum baik, tapi penuhi kepentingan saat ini. Baru nanti saat mempunyai rizki dan kepentingan sudah bertumbuh, waktunya geser ke rumah yang lebih baik .

Meskipun demikian, di setiap set apa saja Anda beli rumah, entahlah itu rumah pertama atau geser ke rumah baru buat penuhi kepentingan yang sudah bertumbuh, argumen antara emosional dan objektif haruslah tetap seimbang.

Berikut ini beberapa argumen yang bisa dipakai buat beli rumah:

Argumen Emosional

Argumen emosional yakni pertimbangan-pertimbangan kira-kira sisi estetika dan kenyamanan dalam rumah Anda kedepannya. Percuma jika Anda mempunyai rumah namun tak rasakan nyaman dan senang tinggal di dalamnya.

Bicarakan dari dalam hati ke hati, padukan arah Anda dan pasangan. Selami waktu kecil semasing: apakah ada segi dari daya ingat waktu kecil yang mau dibawa ke rumah khayalan?

Dalam pengalaman saya, suami saya, misalnya, letakkan datangnya teras depan rumah jadi hal yang harus ada. Menurutnya, teras rumah yakni tempat yang paling enak buat bercakap. Pada waktu kecil, ia serius nikmati kenangannya berdiskusi kecil dengan ibunya di teras depan rumah. Saya?

Teras depan tak kasus, tapi bathtub dan balkon yakni tempat yang tidak bisa ditawar. Guess what? That’s my childhood home!

Beberapa hal mirip ini tetap harus jadi argumen, meski tetap harus dikompromikan dengan argumen objektif.

Argumen objektif

Argumen objektif bergulat pada bagaimana rumah membuat pekerjaan dan mobilitas Urban Mama jadi tambah efektif dan efisien.

Yang utamanya pastinya harga rumah. Apa pemasukan Anda dan pasangan cukup buat penuhi cicila n rumah, kepentingan sepanjang hari, dan cicilan lainnya? Ingat, total cicilan yang yang sehat yakni 30% dari pemasukan Anda dan pasangan.

Sesudah itu bagaimana rumah membuat perubahan pekerjaan dan mobilitas harian. Misalnya, sejauh berapa jarak rumah dari tempat kerja. Jikapun jauh, apakah ada transportasi umum yang bisa membantu mobilitas pulang-pergi ke kantor?

Apa biaya transportasi umum ini cukup objektif? Bagaimana jika biaya transportasi umum ini dimanfaatkan buat beli rumah di harga yang lebih mahal tapi lebih dekat dengan tempat kerja?

Pikirkan mana yang lebih penting: dekat sekolah pujaan atau dekat rumah sakit dengan dokter gizi yang bagus atau mempunyai area hijau yang bermutu? Kepentingan setiap keluarga dan anggotanya serius unik. Gali lebih dalam dari sekedar ‘wishlist’.

Umpamanya, rekanan saya yang punyai anak dengan alergi kompleks membuat letakkan datangnya rumah sakit dengan dokter istimewa penyakit dalam yang terpercaya jadi prioritas.

Mana gaya hidup yang siap Anda dan pasangan korbankan? Hidup itu pilihan. Sometimes we just need to take the pill to be healthy. That’s what being adult is all about, right.

Argumen objektif lainnya yakni harga jual kembali rumah tujuan saat ini. Waktu Anda putuskan geser ke rumah baru, ada dua pilihan yang bisa diselesaikan pada rumah yang didiami: disewakan atau dijual.

Ke-2 harapan berikut yang harus diantisipasi juga. Anda bisa mendapatkan insight kira-kira harapan harga properti di Rumah.com Property Index.

Argumen objektif lain yakni beli rumah seken atau rumah baru. Semasing mempunyai kelebihan dan kekurangannya sendiri. Rumah seken pastinya siap huni dan tempat sekelilingnya sudah mempunyai fasilitas umum yang komplit.

Sejenak rumah baru biasanya ditawarkan dengan sistem inden dan berada pada tempat yang masih baru bertumbuh.

About Author

Comment here